SEJARAH PERAHU MANDAR

Hubungan manusia dengan kebudayaan memang tidak dapat dipisahkan, karena kebudayaan merupakan sebuah hasil dari tindakan manusia. Sebagai negara yang memiliki suku yang beragam dan berbeda baik dari adat istiadat hingga tradisinya. Hal tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi Indonesia. Salah satu contoh dari beragamnya suku di Indonesia adalah Suku Mandar yang memiliki kebudayaan bahari atau maritim hingga sekarang.

 

Suku Mandar, merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki budaya maritim. Terletak di Sulawesi Barat, suku ini lahir sekitar abad ke 16. Penamaan dari Suku Mandar ini sendiri asalnya dari dua kata Bahasa Hindu, yakni memiliki arti penduduk. Selain arti nama tersebut, Mandar juga diartikan sebagai aliran sungai Mandar yang memiliki hulu di Kecamatan Malunda dan muara yang bertempat di Kota Tinambung. Menurut sejarah yang ada bahwa terbentuknya masyarakat Mandar ini berasa dari kesepakatan federasi yang diakukan oleh tujuh kerajaan kecil untuk membuat sebuah persatuan kerajaan di muara sungai.

 

Baca Juga : Keakraban Suku Mandar Dengan Laut

 

Dikenal sebagai suku maritim yang ada di Indonesia, Suku Mandar memiliki kebudayaan bahari yang kental di setiap anggota masyarakatnya. Kondisi lingkungan dan wilayah dari suku ini juga mendukung karena tanah yang ada di wilayah tersebut sangat tidak subur. Maka dari itu, masyarakat dari Suku Mandar lebih cenderung memiliki aktivitas bahari atau laut. Dengan memiliki lingkungan alam yang mendukung dan pengetahuan bahari yang kuat menjadikan Suku Mandar memiliki sistem kebudayaan yang berhubungan dengan laut. Sehingga adaptasi masyarakat dengan lingkungan laut menghasilkan teknologi perikanan yang dapat dijalankan sehari-hari oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah perahu, perahu mandar dikelompokkan atas dua yakni perahu lesung (olang mesa, pakur, sandeq) dan perahu papan (padewakang, palari, lete, lambo, baqgo). Berikut sekilas penjelasan tentang jenis perahu suku mandar.

 

1. Olang Mesa

Perkawinan antara orang laut dan orang darat, dalam sumber lokal Mandar terjadi pada zaman bahari. Dimana orang laut tak ingin kehilangan jati dirinya dengan adanya perkawinan dengan orang darat. Maka mereka tetap menurunkan kemampuan membuat perahu paling sederhana dan berukuran kecil yakni olang mesa. Yang terbuat dari sebatang kayu gelondongan yang dikeruk (perahu lesung). Karena terbuat dari sebatang gelondongan kayu tentu ukuran perahu ini kecil dan memiliki daya angkut yang sangat terbatas. Olang mesa pada umumnya digunakan nelayan untuk mencari ikan. Perahu ini merupakan perahu yang paling tua dan menjadi cikal bakal perahu mandar lainnya pakur dan sandeq.

 

2. Pakur

Berdasar dari ukuran perahu terdahulu olang mesa yang berukuran kecil, dimana kebutuhan terhadap suatu barang yang tidak tersedia pada satu daerah menyebabkan orang lain mencari di tempat lain. Dalam kaitan itu diperlukan alat angkut yang lebih besar dengan daya jelajah yang jauh dan cepat. Karena itu timbul kreasi terhadap model perahu yang ada dibuat lebih besar. Dari proses itu lahir perahu pakur. Evolusi pakur tidak hanya pada kapasitas dan daya jangkau, tetapi juga berbentuk haluan (paccung uluang) dan buritan pacung bui). Pada perahu olang mesa kedua pacung dibuat tegak lurus. Desain ini tidak mendukung olang mesa bergerak lincah di perairan terbuka, kecuali di sungai dan lepas pantai. Paccung pakur dibuat melengkung, bagian depan lebih tinggi dari belakang. Dari segi fungsi olang mesa lebih banyak digunakan untuk menangkap ikan sedangkan pakur selain menangkap ikan di laut dalam juga untuk pelayaran niaga. Selain berbentuk pacung ciri khas pakur tampak pada model layar warisan dari olang mesa berupa persegi panjang (sobal taja) yang terbuat dari daun nipah yang dianyam. Layar persegi panjang hanya digunakan untuk berlayar searah angin. Bila arah angin tiba-tiba berubah awak perahu harus menurunkan layar. Begitu juga ketika angin bertiup kencang maka layar besar (sobal kaiyyang) harus diturunkan lalu diganti dengan layar kecil (sobal cadi). Dengan kondisi tersebut dibutuhkan dua sampai tiga orang untuk menjaga dan mengendalikan layar perahu. Layar persegi panjang digunakan sampai tahun 1950-an pada perahu olang mesa dan pakur. Model layar inilah yang membedakan dua perahu tersebut dengan perahu berikutnya sandeq.

    

3. Sandeq

Sandeq merupakan bentuk terakhir evolusi perahu bercadik di Mandar. Disebut “sandeq” karena bentuk haluan tajam dan layar runcing atau masandeq. Salah satu ciri sandeq ialah bentuk layarnya, yang membedakan dengan olang mesa dan pakur, berupa segi tiga (nade), yang dikenal dengan layar sandeq. Bentuk layar ini berpengaruh terhadap ukuran tiang layar utama bahwa sandeq lebih tinggi dari pakur. Kemudian, posisi pallayarang lebih kedepan, sementara pakur agak ke tengah. Bentuk lambung sandeq berbeda dengan pakur. Pada pakur, bentuk lambung haluan dan buritan tampak sama sedangkan lambung haluan sandeq lebih tipis dari buritan. Tentu saja hal ini mempengaruhi kapasitas dan kecepatan perahu. Pakur lebih besar dibandingkan dengan sandeq. Sandeq lebih cepat dan lincah dibandingkan pakur.    

 

Gambar : Illustrasi Perahu Tradisional Bercadik (sumber : www.1001indonesia.net)

 

4. Palari

Pada mulanya perahu palari (perahu yang bergerak cepat) digunakan untuk berperang. Pada perkembangan kemudian palari digunakan sebagai perahu dagang. Apabila di zaman kerajaan tenaga penggeraknya selain bertumpu pada layar, juga tenaga manusia (pendayung) untuk memastikan ia bisa bergerak cepat di laut saat digunakan. Setelah dialihfungsikan untuk berdagang untuk mempertahankan kecepatan geraknya maka layarnya ditambah sampai tujuh layar dengan dua tiang utama. Layar besarnya tidak lagi dipasang menyamping melainkan berdiri mengapit tiang layar.

   

5. Padewakang

Berbeda dengan palari yang semula digunakan untuk berperang padewakang merupakan perahu dagang berukuran besar yang sangat tua dari Sulawesi. Perahu ini memiliki dua atau tiga tiang layar yang sebagian besar dibuat dari kayu dan sebagian lagi bari bambu. Layar bagian tangah berbentuk persegi panjang (sobal tanja), sedangkan layar depan (jip) berbentuk segitiga. Posisi layar horizontal bila perahu sedang berlabuh atau angin tidak bertiup. Penggunaan padewakang sebagai kapal niaga sangat pupuler digunakan. Terutama pada zaman perdagangan dimasa VOC. Sampai akhirnya pada paruh abad ke 20, padewakang tidak lagi digunakan. Pelaut mandar lebih senang menggunakan perahu lete, lambo, dan baqgo. Meskipun demikian jejak teknologi padewakang tampak pada model baru tersebut. Model lambungnya tampak pada perahu lete. Kemudinya berjumlah dua buah tampak pada perahu baqgo. Layar depan (jip) tampak pada perahu palari dan lambo. Dengan kata lain padewakang merupakan sumber kreasi teknologi perahu dagang mandar pada abad ke 20.

 

6. Lete

Perahu lete banyak dijumpai di pantai utara Jawa dan Madura, berfungsi sebagai perahu dagang jarak jauh. Bentuk balok tinggi besar dan tebal serta menonjol pada haluan dan buritan. Pada bagian tengah terdapat bangunan pondok yang beratap papan dan bambu untuk melindungi barang dan penumpang. Layarnya berbentuk trapesium, ketika berlayar lete dilengkapi dengan sebuah perahu kecil. Bentuk layar lete berupa segitiga dengan posisi miring ke belakang. Kain layar diikat pada dua kayu layar yang terbuat dari bambu besar. Bambu layar atas lebih besar dari bambu layar bawah. Layar lete tidak dilengkapi layar depan ( sobal tarengke) dan kayu anjungan, seperti layar lambo dan baqgo. Model layar lete juga digunakan pada perahu model sekoci. Bentuk layar lete  seperti itu membutuhkan kecermatan dan banyak tenaga untuk menggunakannya.

 

7. Lambo

Lambo merupakan perahu khas buton, yang juga digunakan pelaut Mandar sebagai pengangkut barang dan penumpang. Ciri khas lambo yang membedakan dengan jenis perahu mandar lain adalah model layar. Model layar lambo awalnya berupa layar biasa dan kemudian layar segitiga. Yang membedakan dengan palari jumlah layar kecilm pada lambo hanya satu, sedangkan palari lebih dari 1 atau sampai 3 buah.

 

8. Baqgo

Baqgo adalah perahu dagang khas Mandar. Bentuk badan baqgo berasal dari badan pajala, yang dibangun dengan ringan. Ia memiliki ruang muatan dengan bagian atas (atap) berbentuk trapesium (tampak dari depan dan belakang). Ruangan ini memenuhi sebagian besar badan baqgo. Hanya sedikit di bagian haluan dan buritan yang tidak ditutup dengan ruangan muatan. Bagian belakang digunakan sebagai tempat pengemudi. Ruang muatan baqgo penangkap ikan tidak memiliki atap trapesium di atas dek perahu seperti baqgo dagang. Selain di mandar dan pantai barat Sulawesi umumnya, baqgo terdapat pada pulau-pulau di Selat Makassar yang dihuni oleh orang mandar. Sebaran baqgo menjadi petunjuk keberadaan orang mandar.

 

Intensitas berlayar dan ruang interaksi para pelaut mempengaruhi daya serap pengetahuan dan adaptasi teknologo perahu.  Dengan daya jangkau wilayah dan kultur yang lebih luas maka memungkinkan produksi perahu dengan teknologi terbaru lebih pesat. Tetapi di balik perubahan itu terkandung kompetisi antara beberapa model perahu. Persaingan ini sesungguhnya tidak melunturkan tradisi bahari, melainkan memperkaya khazanah budaya bahari mandar. Itulah sebabnya orang mandar disebut sebagai pelaut tua terbaik dari Sulawesi.

 

Editor: - Nurul Khairi, Ruang Maritim Indonesia, 2022.